Posted on

Hadits-Hadits Lemah & Palsu tentang Ramadhan


Perlu diketahui juga bahwa yang disebutkan di bawah ini tidak mencakup semua hadits palsu dan dha’if tentang Ramadhan, karena masih banyak hadits-hadits lain yang bisa ditemukan dalam kitab-kitab yang membahas secara masalah tersebut seperti: Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah karangan Syekh al-Albani, al-Maudhu’at karangan Ibnu al-Jauzi,al-Manar al-Munif karangan Ibnu al-Qayyim, al-La’ali’ al-Mashnu’ah karangan Imam Suyuthi dll.

Hadits palsu tentang Ramadhan

1. Hadits pertama

إِنَّ الله لَيْسَ بِتَارِكِ أَحَدًا مِنَ المُسْلِمْينَ صَبِيْحَةَ أَوَّلِ يَوْمٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ إِلاَّ غَفَرَ لَهُ

Artinya: “Allah mengampuni semua kaum muslimin pada hari pertama ramadhan tanpa seorangpun terkecuali.”

Hadits ini palsu karena dalam sanadnya terdapat Salam ath-Thowil yang dituduh memalsukan hadits. Gurunya (perawi sebelumnya) yaitu Ziyad bin Maimun juga seorang pemalsu hadits dengan pengakuannya sendiri .(Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 1/465)

2. Hadits kedua

إِذَا كاَنَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ نَظَرَ اللهُ عزّ وَجَلّ إِلَى خَلْقِهِ، وَإِذَا نَظَرَ اللهُ عز وجل إِلَى عَبْدِهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ أَبَدًا، وَلِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ أَلْفُ أَلْفِ عَتِيقٍ مِنَ النَّارِ

Artinya: “Pada malam pertama bulan Ramadhan, Allah melihat makhluk-makhluk-Nya, dan apabila Allah melihat hamba-Nya, maka Ia tidak akan menyiksanya. Dan Allah membebaskan satu juta orang dari api neraka setiap malam.”

Hadits ini palsu karena kebanyakan perawinya tidak dikenal, dan dalam sanadnya ada Utsman bin Abdullah, seorang pemalsu hadits. (Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 1/470, al-Mudhu’at, Ibnul Jauzi: 2/190, al-La’ali’ al-Mashnu’ah, as-Suyuthi: 2/100-101)

3. Hadits ketiga

أَلاَ أُخْبِرُكُم بِأَفْضَلِ الْمَلاَئكةِ جِبْرِيلُ عليه السلام، وَأَفْضَلُ النَّبِيِّينَ آدَمُ، وَأَفْضَلُ الأيَّامِ يَوْمُ الجُمُعَةِ، وَأَفْضَلُ الشُّهُورَ شَهْرُ رمضان، وَأَفْضَلُ الّليَالِي لَيْلَةُ القَدَر، وَأَفْضَلُ النِّسَاءِ مَرْيَم بِنْتِ عِمْرَان ” .

Artinya: “Maukah kalian aku beritahu? Malaikat paling mulia adalah Jibril, nabi paling mulia adalah Adam, hari paling mulia adalah Jum’at, bulan paling mulia adalah Ramadhan, malam paling mulia adalah Lailatul Qadar, dan wanita paling mulia adalah Maryam binti Imran.”

Hadits ini palsu karena dalam sanadnya ada Nafi’ Abu Hurmuz yang menurut Ibnu Ma’in ia adalah seorang pendusta. (Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 1/638)

Dari sisi kandungannya, hadits ini juga bertentangan dengan hadits shahih yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang paling mulia.

4. Hadits keempat

مِنِ اعْتَكَفَ عَشْرًا فِي رَمَضَان كَانَ كَحَجَّتَيْنِ وَعُمْرَتَيْن

Artinya: “Barang siapa beri’tikaf selama sepuluh hari pada bulan ramadhan maka seakan-akan ia telah melakukan 2 kali haji dan 2 kali umrah.”

Hadits ini palsu karena dalam sanadnya ada ‘Ambasah bin Abdurrahmah, yang menurut Abu Hatim dan adz-Dzahabi ia seorang pemalsu hadits. Ibnu Hibban berkata: “Ambasah mempunyai riwayat-riwayat palsu dan yang tidak ada sumbernya.” (Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 2/10)

5. Hadits kelima

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا في شَهْرِ رَمَضَان فيِ الْحَضَرِ فَلْيَهْدِ بَدَنَةً، فَإِنْ لمَ يَجِدْ فَلْيُطْعِمْ ثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ الْمَسَاكِيْن

Artinya: “Barang siapa yang berbuka (membatalkan puasanya) pada bulan Ramadhan sedangkan ia mukim, maka hendaklah berkurban dengan unta, apabila ia tidak mampu hendaklah ia memberi makan 30 orang miskin dengan satu sha’ kurma.”

Dalam sanad hadits ini terdapat Harits bin Ubaidah al-Kala’i, ia adalah seorang pendusta. (Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 2/88, al-Mudhu’at, Ibnul Jauzi: 2/196, al-La’ali’ al-Mashnu’ah, as-Suyuthi: 2/106)

6. Hadits keenam

مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ بِمَكَّةَ فَصَامَ وَقَامَ مِنْهُ مَا تَيَسَّرَ لَهُ، كَتَبَ اللهُ لَهُ مِائَةَ أَلْفِ شَهْرِ رَمَضَانَ فِيْمَا سِوَاهَا، وَكَتَبَ الله لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ عِتْقَ رَقَبَةٍ، وَكُلِّ لَيْلَةٍ عِتْقَ رَقَبَةٍ، وَكُلِّ يَوْمٍ حَمْلاَنَ فَرَسٍ في سَبِيلِ الله، وَفِي كُلِّ يَومٍ حَسَنَةً، وَفِي كُلِّ لَيْلةٍ حَسَنَةً .

Artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadhan di Makkah, dan melakukan qiyam Ramadhan sebatas kemampuannya, maka Allah menulis baginya pahala seratus ribu puasa Ramadhan selain di Makkah, dan Allah menulis baginya pahala memerdekan budak setiap hari, dan setiap malam. Dan menulis baginya pahala menyiapkan kuda perang untuk berjihad di jalan Allah, dan menulis baginya satu kebaikan setiap hari dan setiap malam.”

Dalam sanad hadits ini terdapat Abdurrahim bin Zaid al-‘Ammi. Ibnu Ma’in berkata tentangnya: “Pendusta yang keji.” Ibnu Hibban berkata: “Ia meriwayatkan dari ayahnya hadits-hadits aneh yang tidak diragukan lagi oleh ahli hadits bahwa  ia adalah palsu atau bercampur satu hadits dengan hadits lain. (Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 2/232)

7. Hadits ketujuh

أَتَدْرُونَ لِمَ سُمِّيَ شَعْبَان؟ لأَِنَّهُ يَشْعُبُ فِيهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ . وَإِنَّمَا سُمِّيَ رَمَضَان؛ لأَِنَّهُ يَرْمِضُ الذُّنُوبَ.

Artinya: “Tahukah kalian mengapa disebut bulan Sya’ban? Karena didalamnya terdapat kebaikan yang sangat banyak. Tahukah kalian mengapa disebut bulan Ramadhan? Karena ia melelehkan dosa dengan panasnya.”

Hadits ini palsu karena didalam sanadnya terdapat Ziyad bin Maimun ats-Tsaqafi. Yazid bin Harun berkata tentangnya: “Ia seorang pendusta.”. (Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 7/209)

Hadits dha’if tentang Ramadhan

1. Hadits pertama

صَائِمُ رَمَضَانَ فِى السَّفَرِ كَالْمُفْطِرِ فِى الْحَضَرِ

Artinya: “Orang yang berpuasa dalam perjalanan seperti orang yang tidak puasa ketika mukim.”

Hadits ini lemah dengan 2 sebab:

  1. Sanadnya terputus, karena Abu Salamah bin Abdurrahman tidak mendengar hadits ini dari perawi sebelumnya yaitu ayahnya, seperti disebutkan al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
  2. Usamah bin Zaid (bukan Usamah shahabat Nabi) lemah hafalannya, dan riwayatnya bertentangan dengan perawi yang tsiqoh yaitu Ibnu Abi Dzi’b yang meriwayatkan hadits ini sebagai ucapan Abdurrahman bin Auf, bukan sabda Rasulullah SAW. (Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 1/713)

Ini berarti, ungkapan diatas sebenarnya bukanlah sabda Rasulullah SAW, akan tetapi ucapan seorang shahabat yaitu Abdurrahman bin Auf.

2. Hadits kedua

رَمَضَانُ بِالْمَدِيْنَةِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ رَمَضَانَ فِيْمَا سِوَاهَا مِنَ الْبُلْدَان، وَجُمْعَةٌ بِالْمَدِيْنَةِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ جُمْعَةٍ فِيْمَا سِوَاهَا مِنَ الْبُلْدَانِ

Artinya: “Ramadhan di Madinah lebih baik dari seribu Ramadhan di negeri-negeri lain, dan shalat Jum’at di Madinah lebih baik dari seribu kali shalat Jum’at di negeri-negeri lain.”

Hadits ini lemah karena dalam sanadnya terdapat perawi yang Majhul (tidak diketahui) yaitu Abdullah bin Katsir bin Ja’far. Adz-Dzahabi berkata: “Tidak diketahui siapa dia, ini adalah sanad yang batil.” Al-Hafidz Ibnu Hajar juga mendukung pendapat adz-Dzahabi dalam kitabnya Lisan al-Mizan. (Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 2/230)

Tidak disangkal bahwa ibadah di Madinah lebih baik daripada ibadah ditempat lain, karena kekhususan Madinah sebagai Tanah Haram berkat do’a Nabi Muhammad, juga dengan adanya Masjid Nabawi yang shalat didalamnya dilebihkan seribu kali pahala dari shalat di masjid lain, kecuali di Masjidil Haram dan Masjidil Aqsho. Akan tetapi, bahwa puasa Ramadhan dan shalat Jum’at di Madinah dilebihkan pahalanya seribu kali, tidak disebut dalam hadits-hadits shahih.

3. Hadits ketiga

لاَ بَأْسَ بِقَضَاءِ شَهْرِ رَمَضَانَ مُفَرَّقًا

Artinya: “Mengqodho’ puasa Ramadhan boleh dilakukan secara terpisah (tidak berurutan).”

Hadits ini lemah karena dalam sanadnya terdapat Yahya bin Sulaim ath-Thaifi yang buruk hafalannya. (Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 2/136)

Walaupun hadits ini lemah, akan tetapi maknanya benar, yaitu bahwa menqodho’ Ramadhan tidak disyaratkan berurutan menurut pendapat sebagian besar ulama’, sesuai dengan firman Allah ta’ala: “Maka hendaklah ia menqodhonya pada hari-hari yang lain.” (Al Baqarah: 184). Ayat ini hanya menunjukkan kewajiban mengganti puasa, dan bukan kewajiban mengganti puasa dengan berurutuan.

Diantara ulama yang mensyaratkan harus berurutan adalah al-Hasan al-Bashri dan Dawud adz-Dhahiri, berdasarkan riwayat Aisyah, bahwa ia berkata: “Telah turun ayat: “Maka hendaklah ia menqodhonya pada hari-hari yang lain secara berurutan.”, akan tetapi kemudian kata: berurutan tidak dicantumkan.” (al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu, Wahbah az-Zuhaily: 2/680)

4. Hadits keempat

مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَيْءٌ لَمْ يَقْضِهِ، لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُ، وَمَنْ صَامَ تَطَوُّعًا وَعَلَيْهِ مِنْ رَمَضَانَ شَيْءٌ لَمْ يَقْضِهِ، فَإِنَّهُ لاَ يُتَقَبَّلُ مِنْه حَتَّى يَصُومَهُ

Artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadhan, dan dia masih mempunyai hutang puasa Ramadhan tahun sebelumnya yang belum diqodho’, maka puasanya tidak diterima. Dan barang siapa puasa sunnah, sedangkan dia masih mempunyai hutang puasa Ramadhan yang belum diqodho’ maka puasanya tidak diterima.

Hadits ini lemah karena dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Lahi’ah, seorang rawi yang terkenal buruk hafalannya.Illah yang lain adalah sanad dan matannya Mudhtharib (diriwayatkan dalam bentuk berbeda-beda atau saling bertentangan) (Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 2/235)

Mengenai masalah qodho’ puasa Ramadhan, madzhab Syafi’i berpendapat wajib hukumnya bersegera mengqodho’ puasa apabila ia membatalkan puasanya bukan karena uzur syar’i, dan makruh baginya berpuasa sunnah. Apabila sampai Ramadhan selanjutnya ia masih mempunyai hutang puasa, maka Jumhur ulama mengatakan bahwa setelah bulan Ramadhan tersebut dia harus menqodho’ hutang puasanya, ditambah dengan membayar fidyah. Sedangkan madzhab Hanafi berpendapat, ia wajib menqodho’ puasanya saja tanpa membayar fidyah.(al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu, Wahbah az-Zuhaily: 2/679)

5. Hadits kelima

أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّار

Artinya: “Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah pengampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka.”

Walaupun hadits ini sangat masyhur dan sering disampaikan dalam berbagai ceramah, akan tetapi ada beberapa sebab yang membuat hadits ini lemah:

  1. Hadits ini diriwayatkan melalui Imam az-Zuhri dan al-Uqaili mengatakan: “Hadits ini tidak ada diantara hadits-hadits az-Zuhri”
  2. Ibnu Adi berkata: “Salam bin Sulaiman bin Siwar (salah satu rawi hadits) adalah seorang yang munkar (seorang rawi dha’if yang riwayatnya bertentangan dengan para rawi tsiqoh)”
  3. Ibnu Adi juga berkata: “Maslamah bin ash-Shalt (salah satu rawi hadits) adalah seorang yang majhul (tidak diketahui).” Sedangkan Abu Hatim berkata: “Ia seorang yang tidak diterima haditsnya.”(Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 4/70)

Tidak diragukan bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, maghfirah dan pembebasan dari api neraka. Akan tetapi pembagian sepuluh hari pertama, kedua dan ketiga seperti yang disebutkan dalam hadits diatas tidak ada dalam riwayat yang shahih. Wallahu a’lam.

6. Hadits keenam

كَانَ يُصَلِّي فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ جَمَاعَةٍ بِعِشْرِينِ رَكْعَةً وَالْوِتْرِ

Artinya: “Bahwa Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan solat bersendirian (tidak berjamaah) sebanyak 20 rakaat dilanjutkan dengan witir.”

Dalam sanad hadits ini terdapat Abu Syaibah, tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari gurunya selain darinya. Menurut al-Baihaqi, al-Haitsami, Ibnu Hajar dll ia adalah seorang perawi yang lemah haditsnya. Sedangkan Syekh al-Albani menganggap hadits ini palsu dengan alasan:

  1. Karena bertentangan dengan hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Muhammad tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat baik pada bulan Ramadhan ataupun diluar Ramadhan.”
  2. Abu Syaibah menurut beberapa ahli hadits dianggap sebagai pendusta, seperti Syu’bah dan Imam Bukhari.
  3. Hadits tersebut menerangkan bahwa Nabi Muhammad shalat bersendirian, dan ini bertentangan dengan hadits shahih riwayat Jabir yang mengatakan Nabi shalat taraweh tiga hari dengan berjama’ah. (Silsilah al-Ahadits adh-Dho’ifah, al-Albani: 2/35)

Namun perlu diketahui bahwa ulama yang berpendapat shalat taraweh 20 raka’at tidak menggunakan hadits ini sebagai dalil, akan tetapi menggunakan dalil-dalil yang lain yang tidak mungkin penulis paparkan semuanya disini. Secara ringkasnya mengenai shalat taraweh, ada pendapat yang mengatakan tidak boleh lebih dari 11 rakaat, dan ada pendapat yang membolehkan lebih dari 11 raka’at, dan semua mempunyai dalilnya masing-masing. Oleh karena itu, tidak sepantasnya membid’ahkan salah satu dari pendapat tersebut, padahal keduanya merupakan pendapat para shahabat dan imam-imam terdahulu.

Demikian beberapa contoh hadits-hadits lemah dan palsu tentang Ramadhan, semoga kita semakin berhati-hati dalam menyampaikan hadits, agar tidak terjatuh kedalam berdusta atas nama Rasulullah SAW yang ancamannya adalah neraka, wal iyadhu billah.

Wallahu ta’ala a’lam.

About indark007

Indark007 adalah seorang mahasiswa di salah satu Universitas Islam Negeri di Bandung yang mengambil jurusan Jurnalistik sebagai konsentrasinya.... Blog ini hanyalah sebagai media sharing tentang pengetahuan dan kehidupan dari Indark007.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s