Posted on

PERJUANGAN PIJAT GOLER


Matahari baru saja menyemburatkan kemilaunya menyambut orang-orang yang tengah sibuk mempersiapkan diri mereka untuk mencari nafkah. Berpenampilan segar, harum dan berwibawa berusaha mereka tampilkan untuk menambah kepercayaan diri untuk bekerja dan menghadapi pengunjung, atasan, bawahan dan pelanggan atau klien mereka. Mereka berlomba dengan waktu, berangkat ke kantor masing-masing menggunakan kendaraan secepat-cepatnya. Sontak pagi hari menjadi awal kemacetan yang lumrah bagi kota Bandung.

Tak mau kalah, Asep seorang pria berumur 46 tahun yang berperawakan tegap dan berkulit putih ini sudah semenjak pagi hari sibuk bersiap-siap akan “ngantor”. Berangkat dari rumahnya yang sederhana di Binong menggunakan motor bebek hitam hasil kerja kerasnya dan mulai tiba di Masjid Raya Bandung pada jam tujuh tepat. Ya, Masjid itu adalah kantornya. Tapi, Kang Asep bukan bekerja sebagai staf ataupun salah satu anggota DKM (Dewan Keluarga Masjid) di Masjid Raya itu. Ia disana bekerja sebagai pemijat, kantornya adalah pelataran dan lantai-lantai Masjid adalah tempat praktiknya. Oleh sebab itu ia terkenal dengan nama Asep “Goler” karena memanfaatkan lantai sebagai alas untuk aktifitas pijat-memijatnya.

Sikapnya yang ramah dan hangat yang dibalut senyuman selalu menyambut apabila ada pelanggan yang bertandang pada Asep. Asep sedemikian terkenalnya disana, sehingga tak jarang orang luar Bandung seperti Ciamis rela jau-jauh datang ke Masjid Raya Bandung untuk sekedar dipijat oleh Kang Asep ini.

Ada yang unik dari cara memijat Kang Asep, dalam terapi pijatnya ia selalu ditemani oleh “cukil” dan bola tenis yang dipotongnya menjadi dua untuk proses penyembuhan dan relaksasi sang pelanggan. Maka hal itulah kiranya, yang menjadi daya tarik sekaligus jurus pamungkas Kang Asep dalam memijat. “Cukil” yang berlukis tulisan-tulisan Arab itu ia pukul-pukulkan ke daerah tertentu yang menurutnya merupakan sumber sakit. Adapun Bola tenis yang di bagi dua tadi, ia tempelkan dengan cara menekannya ke daerah-daerah tertentu juga, seperti halnya pengobatan alternatif ala bekam. Cuman berbeda dengan bekam, cara ini tidak menggunakan api.

Orang asli Garut ini sudah empat tahun lamanya menggantungkan hidup sebagai pemijat di Masjid, semenjak tahun  2006. Sebelumnya Asep pernah menjalankan profesinya ini secara door to door atau dengan cara mendatangi rumah-rumah yang membutuhkan jasanya.

Dulu Kang Asep ini pernah berkeinginan menjadi tentara namun setelah dua kali ikut mendaftar kesemua usahanya tersebut mengalami patah arang ditengah jalan. “Waktu dulu saya ingin menjadi tentara untuk melanjutkan perjuangan ayah, yang sekarang ayah saya menjadi veteran” Ucap Asep. Pada akhirnya Asep pun mencoba banting setir berlaih menjadi seorang buruh di salah satu perusahaan tekstil di Bandung.

Tak pernah disangka-sangka perjalanan kehidupan Asep kembali di uji, setelah empat tahun lamanya ia mengabdi di pabrik tersebut Asep terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Tapi Asep tak pernah habis akal, “Sebelum saya menjadi pemijat seperti ini, saya pernah menjadi pemain sekaligus pengrajin seruling”. Berawal dari sebuah hobi yang kemudian menjadi daya jual yang cukup pada saat itu. Namun pada akhirnya bisnis seruling yang Asep geluti tersebut mengalami keterpurukan  juga, kemudian pehobi sepak bola ini pun kandas dalam bisnisnya.

Tidak ingin kalah dengan hidup yang selalu menantang, Asep pun bangkit dan berkompetisi dengan waktu. Memanfaatkan kemampuan yang asli diturunkan dari keluarganya, yakni memijat. Dengan penuh semangat Asep pernah berkelana menawarkan jasa tangan-tangan relaksasinya tersebut hingga kota Jakarta.

Sebenarnya puncak dari kemujaraban pijatannya itu berawal dari datangngya buah mimpi yang mengisyaratkan Asep untuk mennggunakan “Cukil” dan bola tenis sebagai media penyembuhannya. Ternyata setelah ia mengikuti apa yang di ajarkan dalam mimpinya itu, diluar dugaan, jasa pijatannya pun menjadi laris dimana-mana. Bahkan tak hanya itu, dengan berbekal alat tadi Asep bisa menyembuhkan orang yang sakit diabetes, lambung, patah tulang hingga stroke ringan melalui tangannya. Dan ajaibnya, tidak ada lagi orang yang dapat menyamai dan meniru prakteknya selain Asep sendiri.

Berkat kerja kerasnya yang mulai membuka “kantornya” semenjak pagi buta hingga gelap menyelimuti menara Kembar Masjid Agung. Asep dalam kurun waktu sebulan bisa menghasilkan buah materil dua kali lipat gajih seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil). Asep berhasil menyekolahkan ketiga anaknya dengan lancar. Membiayai keluarganya dengan layak, dan bahkan sempat membeli sebuah kendaraan bermotor utuk penunjang pekerjaannya tersebut.

Berkantor dan menjajakan jasanya di Masjid Agung Bandung tentu tak selalu mendatangkan buah manis buat Asep. Asep pernah mengalami pengusiran oleh sepasukan orang-orang berseragam hijau yang komplit dengan pentungan ditangannya, yang biasa kita sebut dengan Satpol PP. Dan  menyuruhnya untuk tidak menjual jasanya disana karena dinilai dapat membuat kumuh alun-alun kota. Tapi Asep tak pernah ambil pusing, “Yang penting mah hidup kudu enjoy dan ikhlas” begitulah kiranya ujar Asep yang pada akhirnya walaupun terusir tetap bekerja di bawah atap Masjid itu juga.

Pergulatannya dengan kehidupan di jalan membawanya untuk berpikir dan bertindak secepat mungkin tak ada waktu untuk berleha sehinnga pria dengan dua buah tato ditangan ini pun berpesan “Mun jadi jalmi mah kedah tiang hejo” (Kalo jadi orang itu harus segala bisa).

“NB: Maaf sebelumnya karena tidak bisa menampilkan photo sang pemijat”

About indark007

Indark007 adalah seorang mahasiswa di salah satu Universitas Islam Negeri di Bandung yang mengambil jurusan Jurnalistik sebagai konsentrasinya.... Blog ini hanyalah sebagai media sharing tentang pengetahuan dan kehidupan dari Indark007.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s