Posted on

Bingung Memilih Pemimpin


Pemilu legislatif sudah di depan mata, rakyat dibingungkan dengan pameran foto bintang-bintang calon legislatif baru. Para kandidat ini sebagian besar belum dikenal masyarakat; sehingga mereka bertanya-tanya ini foto siapa, anaknya siapa, sekolahnya di mana, dan yang lebih penting masyarakat bertanya apa peran yang telah dilakukan dalam upaya mengangkat harkat dan martabat masyarakat?

Pertanyaannya, apakah dengan lomba foto ini mereka akan menuai hasil yang diharapkan? Apalagi mengingat slogan-slogan yang dikemukakan adalah mirip-mirip hanya ganti kata, tetapi tidak ganti makna, yakni “berjuang untuk rakyat”; seakan-akan menjadi anggota legislatif adalah the only way to strive atau satu-satunya cara untuk memperjuangkan nasib rakyat.

Bagaimana kalau niat berjuang untuk rakyat itu munculnya sejak dahulu? Apakah ini ciri berjuang pada zaman modern? Sebagaimana yang dikatakan Simmel, “Modernitas memberi keuntungan pada umat manusia. Modernitas sebagai ‘epiphany‘ dalam arti sebagai tanda kekuatan instrinsik manusia yang sebelumnya tidak dijelmakan. Dengan demikian, para kandidat ini akan ber-epiphany–dengan cara menakar kekuatan diri dengan melihat sampai di mana dukungan masyarakat terhadapnya.”

Modernitas selalu diikuti rasionalitas formal, menurut Weber, sehingga manusia terkungkung kerangkeng besi rasionalitas sehingga sudah tidak bisa lagi mengungkapkan humanis-nya yang paling mendasar. Dengan kata lain kalau seseorang mengeluarkan tenaga, pikiran, dan harta sekian, dalam perhitungan rasionalitasnya setelah tujuannya tercapai akan memperoleh modal simbolik (gengsi, prestise, jabatan) setinggi sekian, dan harta sejumlah sekian. Inilah rasionalitas formal.

Perhitungan semacam ini seluruh rakyat Indonesia pasti mengerti, walaupun tidak bisa menghitungnya secara tepat. Kebingungannya adalah bagaimana ia dapat memilih kandidat legislatif yang benar-benar iklhas memperjuangkan dirinya.

Penulis mencoba mengangkat kiat memilih pemimpin, menurut Ibnu Taimiyah, yang sarat dengan nilai dan dapat dianut seluruh bangsa di dunia, yang tentu saja bila diterapkan di negara Republik Indonesia rasanya pasti cocok.

Kiat memilih ini sangat sederhana hanya terdiri dari tiga kata, yakni aslah, quwwah, dan amanah.

Pertama, seorang pemimpin harus dipilih dari yang aslah (paling layak dan sesuai). Tentu saja ia adalah orang yang terbaik segala-galanya, di antara semua orang yang ada di wilayahnya. Paling tinggi imannya di antara para calon yang ada, paling baik moralnya di antara mereka, paling tinggi budi pekertinya, paling tinggi ilmunya, dan paling luas wawasannya dalam mengatasi masalah-masalah hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta yang paling terampil memanage atau mengelola unit/wilayah yang dipimpinnya.

Kedua, apabila yang terbaik tersebut tidak diperoleh di antara mereka, pilihlah kriteria yang di bawahnya, dan apabila hal tersebut juga tidak bisa diperoleh, pilihlah yang setidak-tidaknya yang memiliki quwwah (otoritas) dan amanah. Quwwah berarti memiliki kekuatan jasmani dan rohani, dia seorang problem solver, seorang yang cerdas bisa memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Sedangkan amanah, adalah bisa dipercaya, jujur, tulus dalam melaksanakan tugas yang diemban atau diamanatkan kepadanya. Apa pun hambatan dan rintangan yang dihadapi karena ia sudah sanggup menjalankannya, tetap akan menjalankannya sepenuh tenaga dan sepenuh hati.

Bagi masyarakat pemilih harus dipahami sabda Rasulullah saw., “Barang siapa yang mengangkat seseorang untuk mengurusi perkara kaum muslimin, lalu mengangkat orang tersebut, sedangkan dia mendapatkan orang yang lebih baik dan lebih layak serta lebih sesuai dari orang yang telah diangkatnya maka dia telah berkhianat terhadap Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Hadis)

Berpijak dari Hadis ini kita tidak boleh sembarangan dalam memilih. Apabila kita salah memilih orang, berarti dosa bagi diri kita, dan berakibat berdosa pada masyarakat manakala pemimpin tersebut hanya mementingkan diri sendiri dan merugikan masyarakat.

Oleh sebab itu, saya sarankan para kandidat yang berprestasi dan para kandidat yang baik-baik, sebutkanlah Anda lulusan mana, amal apa yang telah Anda lakukan selama ini, ibadah apa yang telah dilakukan sering di masjid, di gereja, di wihara atau di kuil mana rasanya perlu dicantumkan dalam foto-foto anda yang ada di jalan-jalan. Oleh sebab itu, menyebarkan riwayat hidup dalam kampanye itu penting karena bagi masyarakat pemilih sebaiknya tahu Anda itu siapa dan bagaimana.

Bagi para pemilih, saya harapkan lebih jeli dalam memilih, kalau perlu selidikilah bagaimana kehidupan rumah-tangganya, berantakan atau tidak, bagaimana prestasi anak-anaknya maju atau tidak? Kira-kira sama halnya kalau kita akan memilih menantu atau memilih calon suami/istri. Logika sosialnya, mana mungkin sesorang yang tidak bisa mendidik anaknya berani mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin yang nantinya akan mendidik masyarakat?

Masyarakat harus lebih waspada, jangan-jangan yang akan kita pilih adalah seorang “preman” atau bahkan “penjahat kakap” yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, yang setelah menjadi “pejabat atau anggota Dewan” akan menjual aset-aset daerah atau memudahkan cara untuk menjual aset yang kita miliki, ast-aset daerah yang menunjang hajat hidup masyarakat.

Kriteria kepemimpinan ini pada hakikatnya adalah criteria yang normatif yang jelas-jelas lebih tinggi dibanding dengan kriteria kepemimpinan hasil kajian ilmiah yang nomotetik (bebas nilai).

Oleh : Joko Mursitho

Kandidat Doktor Sosiologi Universitas Indonesia

About indark007

Indark007 adalah seorang mahasiswa di salah satu Universitas Islam Negeri di Bandung yang mengambil jurusan Jurnalistik sebagai konsentrasinya.... Blog ini hanyalah sebagai media sharing tentang pengetahuan dan kehidupan dari Indark007.. ^^

One response to “Bingung Memilih Pemimpin

  1. dzulfikar ⋅

    blognya bagus……….teruslah menulis……………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s