Posted on

Ironi sebuah pacaran


Sepasang kekasih berjalan dan duduk dengan mesranya, saling bergandeng tangan ataupun berpeluk cinta dan kasih mungkin itu suatu pemandangan yang bisa dikatakan umum dewasa ini. Di Bandung contohnya banyak sekali diantara sepasang kekasih tersebut yang “mojok” di mall-mall ataupun di kafe-kefe, dahulu itu mungkin adalah suatu hal yang tabu bahkan terlarang.

Sekarang zaman telah berubah, bepacaran bagaikan makanan pokok sehari-hari dan pada dewasanya menjadi sebuah trend yang tidak mungkin terlewatkan dalam sejarah kehidupan kita. Khususnya para remaja anak-anak SMA, mereka seolah tidak akan pernah bisa absent untuk hal ini.
“Pacaran merupakan suatu kebutuhan” ungkap Nuri salah satu mahasiswa UIN Bandung.
Dan yang menjadi pertanyaan, sebenarnya para remaja ini berpacaran untuk apa? Banyak kalangan remaja yang menjawab bahwa berpacaran merupakan proses menuju kedewasaan yang di dalamnya mereka belajar saling mengerti dan saling memberikan perhatiannya. Akan tetapi tak sedikit yang menjawab bahwa berpacaran itu hanya ikut-ikutan, gengsi dan bahkan hanya untuk have fun saja.
Sekarang, apakah sebenarnya fenomena pacaran pada dewasa ini dapat membawa para remaja kearah positif ataukah negatif? Hasil survey menyatakan bahwa sembilan dari sepuluh orang Bandung mengatakan, pacaran merupakan hal yang negatif. Itu berarti dapat disimpulkan bahwa 90 % para remaja mengakui pacaran merupakan salah satu hal yang harus dijauhi, karena akibat yang ditimbulkannya lebih banyak kesisi yang buruk daripada hal yang baiknya.
Namun hal ini pada kenyataanya menjadi sebuah klaim ironi dengan tanda tanya yang besar, karena yang terjadi adalah kebalikannya. Mereka lebih menikmati dan enjoy dengan pacaran itu.
Bahkan dikalangan anak muda Bandung sendiri mereka mengganggap bahwa pacaran itu bukan hanya sekedar mengobrol ataupun sharing saja, tapi juga harus ada kontak “fisiknya”. Maka dari situ timbulah suatu idiom dikalangan ABG Bandung bahwa, bobogohan mun ngobrol hungkul mah geus weh jeung nini aing? (Pacaran kalau cuman ngobrol doang, mending sama nenek saya saja?)
Menurut pandangan psikolog, remaja pada usia 18-21 tahun sudah mulai memiliki rasa suka terhadap lawan jenis. Akan tetapi para remaja ini dalam prosesnya sedang mengalami periode labilitas emosional yang bergejolak-gejolak. Sehingga banyak diantara mereka yang tidak mengerti batasan-batasan atas hubungan pacaran itu, maka tak ayal dampak buruk sering terjadi pada mereka. Contohnya era sekarang ini di Indonesia marak terjadi MBA atau Married by Accident.
“Di sekolah SMA saya saja, dulu dalam satu tahun terakhir pernah terjadi hingga tiga orang murid keluar karena terkena kasus MBA itu” jelas salah seorang alumnus salah satu sekolah terkemuka di Cimahi.
Oleh karena itulah, untuk mencegah hal tersebut peran orang tua dan orang-orang dewasa sangat dibutuhkan oleh para remaja. Hendaknya mereka ini diberikan keterangan dan penjelasan yang kongkrit, sehingga pada akhirnya dapat membatasi dan memfiltrasi mereka. Namun upaya-upaya tersebut tentu saja memerlukan fasilitas dan dukungan dari berbagai pihak terkait khususnya pemerintah.

About indark007

Indark007 adalah seorang mahasiswa di salah satu Universitas Islam Negeri di Bandung yang mengambil jurusan Jurnalistik sebagai konsentrasinya.... Blog ini hanyalah sebagai media sharing tentang pengetahuan dan kehidupan dari Indark007.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s