Posted on

PROPAGANDA DAN MEDIA MASSA


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Propaganda dan media massa memang tak bisa terpisahkan, lewat media massa inilah kemudian propaganda bisa terlaksana dengan baik terlepas itu oleh media audio, visual, ataupun audio visual.

Media massa memang memiliki pengaruh yang sangat sentral dalam pembentukan opini publik sehingga dalam hal ini informasi yang diberikan dapat mempengaruhi keadaan komunikasi sosial pada masyarakat. Masyrakat yang tidak tahu apa-apa banyak yang menelan mentah-mentah berbagai informasi yang diberitakan pada sebuah media, padahal di sisi lain berita tersebut ada kemungkinan memiliki ketimpangan yang harus diverifikasi.

Berbagai informasi yang kemudian masuk tanpa mengindahkan sisi objektivitas itulah yang kemudian menjadi permasalahan. Propaganda yang tak berimbang tentunya memiliki kepentingan-kepntingan yang biasanya berkenaan dengan kepentingan politik, bertujuan untuk menjatuhkan figur atau tokoh-tokoh tertentu dan berusaha menaikan pamor tokoh tertentu.

Sebagai gambarannya adalah ketika Pemilu berlangsung para kontestan dengan menggunakan media berusaha mepromosikan dirinya melalui partai yang mengusungnya. Dengan begitu mereka berusaha mempropagandakan dirinya agar mendapat simpati masyarakat sehingga banyak yang memilih.

Kemudian untuk memperoleh suara yang banyak, tak sedikit diantara mereka yang melakukan praktik Black Propaganda. Menggunakan cara-cara yang licik dengan menghasut dan mengadu domba. Tak ayal denngan propaganda jenis ini terberssit sebuah istilah “lempar batu sembunyi tangan”.

Pelaksanaan Pemilu memang rawan dengan berbagai kegiatan Propaganda utamanya yang berbau negatif. Segala cara yang bisa ditempuh digunakan demi memenangkan pemilihan terlepas dengan jalur yang terhormat (positif) dan tidak terhormat (negatif).

Selain pelaksanaan pemilu diatas, Propaganda yang sering dilancarkan media pada dewasa ini ialah mengenai pemberitaan Islam dan teroris. Islam dan teroris seolah menjadi satu paket yang terus diliput oleh media, utamannya Barat. Sehingga terjadilah opini publik yang mengartikan Islam sebagai agama yang keras, bengal, dan barbar yang menghasilkan partisipan terorisme belaka.

Media memang menjadi alat Propaganda yang efektif untuk menghasilkan dan membentuk pemikiran dan pola piker masyrakat. Maka, propaganda pun dengan demikian terkait erat dengan salah satu teori dalam komunikasi yakni, teori agenda setting.

Dengan agenda setting ini media dengan sepihak menampilkan dan memberikan asupan informasi kepada publik karena mengangap hal tersebut penting oleh media massa. Sebagai contohnya ketika media massa dipergunakan pemerintah di AS (Amerika Serikat) dalam memprogandakan peperangan. Pada dasarnya masyarakat AS menentang dengan keras peperangan yang di usung pemerintah, namun dengan media AS kemudian memberikan Propagandanya bahwa peperangan adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk menghasilkan kedamaian.

Melalui propaganda seperti itu kemudian pola pemikiran masyarakat pun berubah dan mendukung peperangan, bahkan tak sedikit yang rela menyumbang untuk kepentingan tersebut terlepas dengan menggunakan berbagai teknik yang ada pada Propaganda.

  1. Teori komunikasi

Dalam makalah ini digunakan teori Agenda setting sebagai landasan bagi propaganda.Teori ini mengatakan bahwa media (terutama media berita) tidak selalu berhasil untuk memberitahukan apa yang kita pikirkan melainkan mereka berhasil mengajak kita untuk memikirkan sesuatu.

Teori ini menjelaskan mengapa ketika orang menggunakan media yang sama juga ikut membicarakan hal yang sama pula. Walaupun persepsi dan perasaan setiap orang dalam menanggapi hal itu berbeda, tetapi pada dasarnya mereka tetap membicarakan hal yang sama.

Kritik:

Teori ini termasuk kedalam teori positivis karena teori ini berusaha memprediksikan jika beberapa orang diterpa oleh sebuah media yang sama, maka mereka akan membicarakan topik yang sama. Menurut Chaffee & Berger’s 1997 kriteria untuk teori positivis adalah:

1. Mampu menjelaskan suatu peristiwa atau paradigma.

2. Mampu memprediksikan suatu peristiwa atau paradigma.

3. Efektif, tidak rumit dan mudah dipahami.

4. Bisa dibuktikan kebenarannya.
Contoh kasus:

Jika anda dan teman anda menonton berita pagi yang membahas mengenai harga BBM bersubsidi akan segera turun harga, maka ketika kalian bertemu kalian akan cenderung membicarakan penurunan harga tersebut. mungkin saja km membicarakan dari segi pemerintahnya, dan temanmu membicarakan dari segi penghematan ongkos. namun pada dasarnya kalian tetap membicarakan apa yang telah diberitakan di media massa.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian

Propaganda merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. Propaganda sendiri berasal dari kata propagare artinya menyebar, berkembang, mekar. Carl I Hovlan menambahkan bahwa propaganda merupakan usaha untuk merumuskan secara tegar azas-azas penyebaran informasi serta pembentukan opini dan sikap. Propaganda timbul dari kalimat sacra congregatio de propaganda fideatau dari kata Congregatio de propaganda fide atau Congregation for the Propagandation of Faith tahun 1622 ketika Paul Grogelius ke 15 mendirika organisasi yang bertujuan mengembangkan dan mengembangkannya agama katolilk Roma di Italia dan Negara lain.

Karya Klasik Lasswell, Propaganda Technique in the World war (1927) mengajukan salah satu usaha hati-hati yang pertama kali mendefenisikan Propaganda: “Propganda semata merujuk pada control opini dengan symbol-simbol penting, atau berbicara secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi social lainnya. (Seperti yang di kutip oleh Werner J. Severin –Jamesa W Tankard ,Jr. Teori Komunikasi, dalam Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, Terapan di Dalam Media Massa. Hal.128)

Kata ‘propaganda’ berasal dari bahasa Latin. Awalnya berarti ‘gagasan untuk disebarkan ke sekeliling’. Namun dalam Perang Dunia I, artinya berubah menjadi ‘gagasan politik yang ditujukan untuk menyesatkan’ (Wikkipedia)

Selain itu juga tokoh-tokoh komunikasi dan para ahli yang lainnya mencoba memberikan defenisi propaganda, diantaranya:

- Enclyclopedia International

Propanda adalah suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan reaksi, tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya pesan yang disampaikan. Arti dari propaganda dikemukan sebagai konsep popular yang cenderung menumbuhkam suatu kecurigaan dan rasa takut terhadap kekuatan dipropaganandis.

- Enclyclopedia berbahasa Indonesia On Line (wikkipedia).

Propaganda ialah sebuah informasi. Informasi itu telah dirancang agar orang merasakan cara tertentu atau mempercayai sesuatu. Infomasi itu biasanya bersifat politik.

- Lasswell

Propaganda dalam arti yang luas, adalah tekhnik untuk mempengaruhi kegiatan manusia dengan memanifulasikan sepresentasinya (representasi dalam hal ini berarti kegiatan atau berbicara untuk suatu kegiatan kelompok).

-         Barnays

Propaganda modern adalah suatu usaha yang bersifat konsisten dan terus menerus untuk menciptakan atau membentuk peristiwa-peristiwa guna mempengaruhi hubungan public terhadap suatu uasha atau kelompok.

-         Drs. R.A Santoso Sastropoetro

Propaganda adalah suatu penyebaran pesan yang terlebih dahulu telah direncanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat dan tingkah laku dari penerimaan komunikan sesuai dengan pola yang telah ditetapkan oleh komunikator.

-         Prof. Onong Uchyana Efendi

Propanganda adalah komunikasi yang dilakukan secara berencana, sistematis dan berulang-ulang untuk mempengaruhi seseorang, khalayak atau bangsa agar melaksanakan kegiatan tertentu denga kesadaran sendiri tanpa paksa atau dipaksa.

-         Drs. R. Roekomy

Propaganda adalah usaha mempengaruhi orang lain berdasarkan factor-faktor psikologis tentang sesuatu yang baru atau belum diakui kebenarannya agar terbuat sesuai dengan yang dirahapkan.

-         Prof. Dr. mar`at

Propanganda itu adalah suatu tekhnik, cara atau usaha yang sistematis serta sungguh-sungguh dipikirkan secara mendalam dimana tekhnik atau cara/usaha ini dilakukan baik oleh seseorang maupun sekelompok orang untuk mempengaruhi pendapat atau sikap orang lains atau kelompok lain.

-         Prof. DR.H.C.J. Duyker

Bahwa siapapun yang melakukan propaganda meyebarkan pesan-pesan, mempunyai keinginan untuk mengubah sikap, pendapat, tingkah laku dari sesame manusia sebagai objeknya.

-         William Albig

Pada awalnya kegiatan propaganda didasarkan pada kokunikasi dari mulut ke mulut dan media cetak yang mencapai kelompok kecil.

  1. 1. Unsur-unsur Propaganda

Adapun mengenai unsur-unsur yang terdapat pada propaganda sehingga terbentuk sebuah komunikasi adalah sebagai berikut:

  1. Adanya komunikator, penyampaian pesan.
  2. Adanya Komunikan atau penerima pesan/ informasi.
  3. Kebijaksanaan atau politik propaganda yang menetukan isi dan tujuan yang hendak dicapai.
  4. Pesan tertentu yang telah di-“encode” atau dirumuskan sedemikian rupa adar mencapai tujuannya yang aktif.
  5. Sarana atau medium (media), yang tepat dan susuai atau serasiu dengan situasi dari komunikan.
  6. Teknik yang seefektif mungkin, yang dapat memberikan pengaruh yang secepatnya dan mampu mendorong komunikan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan atau pola yang ditentukan oleh komunikator.
  7. Kondisi dan situasi yang memungkinkan dilakukannya kegiatan propaganda yang bersangkutan.

2. Teknik Propaganda

  1. Name-Calling.

Propagandis menyentuh simbol-simbol emosional kepada seseorang atau sebuah negara.  Targetnya  diharapkan merespon  sesuai  yang dikehendaki  propagandis tanpa   perlu   memeriksa   lagi   atau   mencari   bukti-bukti.   Dengan   demikian propagandis melancarkan semacam stereotipe kepada sasarannya.Dalam hal  ini muncul istilah komunis menjadi “merah”, pemimpin buruh menjadi “bos serikat buruh” dan pemeritah konstitusional menjadi klik pemerintah.

  1. Glittering Generality

Ini  mirip dengan   teknik  nomor  pertama  namun digunakan  untuk melukiskan sebuah gagasan atau kebijakan bukannya  individu.   Istilah “dunia bebas”  (free world)   adalah   generalitas   favorit   propagandis   Barat.   Sedangkan   “solidaritas sosialis”   dipakai   dunia   komunis   untuk  menggambarkan   hubungan   kompleks diantara negara dan partai  komunis.  Sementara  itu “jiwa Afrika”  (the African soul) diharapkan mencipta citra kekuatan dan persatuan.

  1. Transfer

Porpagandis berusaha mengidentifikasikan sebuah gagasan, pribadi, negara atau kebijakan dengan hal lain untuk membuat sasaran propaganda setuju atau tidak setuju. Salah   satu   caranya   adalah   membangkitkan   kebencian   sikap   rakyat beragama   terhadap   komunis   yang   menyamakan   dengan   ateisme.   Komunis biasanya menyamakan kapitalis dengan dekadensi (kemerosotan) dan anti semit dengan   harapan  menciptakan   dukungan   publik   karena  menyamakan   yahudi dengan komunis.

  1. Plain Folks

Propagandis sadar bahwa masalah mereka terhambat jika mereka tampak di mata audiensnya   sebagai   “orang   asing”.   Oleh   sebab   itu   mereka   berusaha mengidentifikasikan   sedekat  mungkin   dengan   nilai   dan   gaya   hidup   sasaran propaganda dengan menggunakan slang, aksen dan idiom lokal.

  1. Testimonial

Di  sini  propagandis  menggunakan pribadi  atau  lembaga yang dapat  dipercaya untuk mendukung atau mengkritik sebuah gagasan atau kesatuan politik. Variasi  dari   propaganda   ini   adalah   “mengkaitkan   dengan   yang   memiliki wibawa/kekuasaan”   dimana   sasaran   propaganda   akan   mempercayai   sesuatu karena sesuatu yang memiliki “otoritas” mengatakan hal itu.

  1. Selection

Hampir semua propagandis bahkan ketika menggunakan teknik lain seperti diulas sebelumnya tergantung pada seleksi fakta, meskipun jarang sangat spesifik dalam  isi faktanya. Ketika presentasi rinci diberikan, propagandis menggunakan hanya fakta-fakta yang tersedia untuk “membuktikan” sasaran yang telah ditentukannya.

  1. Bandwagon

Teknik  ini  memainkan perasaan audiens untuk sesuai  dengan massa.Teknik  ini mirip   testimonial   namun  massalah   yang   jadi   cara   untuk  menarik   perhatian. Misalnya propagandis komunis sering menggunakan ungkapakn “seluruh dunia  tahu bahwa ….” Atau “semua rakyat yang cinta damai mengakui bahwa ……” Atau   “semua   masyarakat   progresif   menuntut   bahwa   ……”   .   Teknik   ini menempatkan  sasaran  sebagai  minoritas   sehingga  bila  mereka  menolak harus bergabung dengan mayoritas. Atau jika sasarannya simpati maka aka menguatkan sikap mereka dengan mendemontrasikan bahwa mereka sudah ada di pihak yang “benar” beserta orang lainnya.

  1. Frustration Scapegoat

Salah satu cara mudah untuk menciptakan kebencian atau menyalurkan frustrasi adalah menciptakan kambing hitam. Rejim-rejim revolusioner yang berhadapan  dengan ketidapastian ekonomi  dan  sosial   internal   serta   frustrasi   rakyat   sering menciptakan   “hantu”   internal   atau   eksternal   untuk  menyalurkan   penderitaan rakyat.  Salah  satu contoh populer  adalah mitos  yang diciptakan Hitler  bahwa masalah dalam negeri dan luar negeri Jerman disebabkan yahudi yang disamakan dengan komunis.

  1. Fear

Kesadaran dapat bangkit dan sikap berubah manakala audiens dibuat sadar akan hambatan atau ancaman terdekat terhadap hidup dan kesejahteraan mereka. Pada  masa   krisis   internasional,   pemerintah   aktiv   dalam   memobilisasi   rakyatnya mengekspresikan   solidaritas   ketika   mereka   berhadapan   dengan   musuhnya. Ancaman  nuklir digunakan untuk   mendorong   pengawasan   dan   perlucutan persenjataan.   Sedangkan   kekhawatiran   kerusakan   ekologi   membangkitkan kesadaran akan isu-isu lingkungan.

3. Pengelompokan Propaganda

  1. Menurut Sifat:
    1. White   propaganda, merupakan   propaganda   yang   secara   jujur,   benar,   sportif menyampaikan isi (content) pesan, serta sumbernya jelas.
    2. Black propaganda, merupakan propaganda yang secara  licik,  palsu,   tidak  jujur dan menuduh sumber lain melakukan kegiatan terebut.
    3. Grey propaganda, merupakan propaganda yang sumber kurang  jelas-  tujuannya samar-samar, sehingga menimbulakan keraguan.
    4. Ratio propaganda, dengan tujuan rasional.
    5. Menurut Sumber:
      1. Concealed, sumber tertutup.
      2. Revealed, sumber jelas – terbuka.
      3. Deleyed revealed, sumber lambat laun terbuka – jelas.
      4. Menurut Sistem:
        1. Menggunakan   simbol-simbol,  Symbolic   interaction.  Propaganda   jenis   ini menggunakan lambang-lambang komunikasi yang penuh arti, yaitu:
  • bahasa (lisan dan atau tulis);
  • Gambar-gambar;
  • Isyarat-isyarat

Ketiganya   telah   dirumuskan   sedemikian   rupa   sehingga   dapat   merangsang   kiwa komunikan untuk menerima pesan dan kemudian memberikan reaksi seperti yang diharapkan oleh komunikator.

  1. Menggunakan perbuatan nyata,  propaganda of   the deed.  Propaganda   jenis   ini menggunakan  tindakan nyata untuk memaksa komunikan menerima pesan dan melakukan tindakan seperti apa yang diharapkan oleh komunikator.
  2. Menurut Metoda Perubahan Sikap:
    1. Coercive, propaganda dengan metoda ini hampir mirip dengan propaganda of the deed. Namun begitu dalam coercive (bersifat sanksional) ini masih menggunakan lambang-lambang komunikasi yang menimbulkan ketegangan jiwa (takut, seram, jijik). Komunikan yang menerima pesan secara coercive, akan melakukan sesuatu sebagai akabat rasa takut, rasa ngeri. Perasaan ini timbul karena ada sanksi-sanksi tertentu   yang   ditakutinya  meelalui   pesan   yang   diterimanya.  Misal:   rasa   takut kehilangan pekerjaan atau nafkah, takut terlantar, dikucilkan, sengsara, dll.
    2. Persuasive, propaganda jenis ini adalah dengan metoda penyampaian pesan-pesan yang menimbulkan rasa senang, tertarik, rela, dan spontan melakukan sesuatu.
  1. Menurut Wilayah:
    1. Regional
    2. Nasional
    3. Internasional.
    4. Menurut Jenis Kegiatan:
      1. Propaganda Dagang :
        1. Iklan
        2. Peragaan/display
        3. Pawai
        4. Pameran
    5. Propaganda Politik
      1. Penyebaran dokrin
      2. Penyebaran keyakinan politik tertentu.
    6. Propaganda Perang
      1. Warmongering atau propaganda yang menghembus-hembuskan perang
      2. Defamatory atau propaganda yang merusak nama baik kepala negara/pemerintah.
      3. Subversive yaitu propaganda yang merusak suatu negara dari dalam agar negara tersebut hancur.
      4. Psy-war atau psychological warfare atau perang urat syaraf. Sering juga disebut sykewar.
    7. Propaganda budaya
      1. Pameran seni dan budaya
      2. Pertukaran misi-misi kebudayaan
      3. Pementasa seni/tari.
      4. Ilmu pengetahaun
    8. Propaganda Agama
      1. Khotbah
      2. Ceramah agama
      3. Pertemuan agama
      4. Pementasan drama bernafaskan agama
  1. Pengertian Media Massa

Media massa atau Pers adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang secara harafiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Sedangkan kata massa menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) ialah sejumlah besar benda (zat dsb) yg dikumpulkan (disatukan) menjadi satu (atau kesatuan). Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.

Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya langsung pada sumber/ ahli dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu.

  1. Propaganda dan Media Masa

Pada masa Plato, media massa sudah diyakini mempunyai pengaruh. Karena itu, ia membatasi bahan-bahan bacaan untuk masyarakat tertentu.

Di Amerika Serikat (AS), sejak 1960-an, studi media sudah membuktikan bahwa media massa memunyai efek terhadap tindakan masyarakat, termasuk dalam tindakan-tindakan yang agresif dan revolusioner. Sejauh studi yang dilakukan para ahli, interpretasi media massa menjadi pertimbangan bagi sebuah gerakan sosial (Ray Eldon Hiebert dan kawan-kawan, 1982).

Stephen Crane (1895) mengatakan media adalah “sebuah pasar, di mana kebijaksanaan bebas dijual, ia adalah permainan, juga bisa membuat kematian”. Maksud Crane tentu menyatakan bahwa surat kabar bukanlah sebuah kebenaran.  Ia bergantung pada perspektif dan fakta yang didedahkan. Hal yang paling berbahaya adalah “kematian” akibat efek berita.

Media massa memang hanya jalinan antara tinta, suara, visual, dan kertas. Namun, ia bisa mempengaruhi siapa saja untuk bertindak; media secara beruntun memberikan informasi, merayu massa tanpa henti.

Penyajian berita dan informasi adalah proganda yang kadangkala tidak disadari. Kebodohan media bisa membuat kebodohan terhadap masyarakat jika masyarakat mengidentifikasi diri mereka sebagai kelompok teraniaya dan dalam kategori yang sama, umpamanya sebagai orang-orang tertindas atau sebagai bangsa yang dizalimi. Kesalahan media akan bisa membawa tindakan sosial yang tragis.

Selanjutnya, bila kita melihat kecenderungan pemberitaan media-media massa dunia terhadap kaum muslimin, kita akan melihat betapa pemberitaan itu telah berhasil membuat kehidupan kaum muslimin di berbagai penjuru dunia menjadi korban. Media-media yang dikuasai Zionis selalu saja memberitakan kaum muslim sebagai orang-orang yang keras dan kasar. Setiap kejadian terorisme, tanpa menunggu penyelidikan terlebih dahulu, akan langsung diliput oleh media-media tersebut dengan tendensi anti Islam. Berbagai kebijakan perang di Irak dan Afganistan yang dilancarkan AS pun tak lepas dari ambisi kaum Zionis yang ingin menguasai Timur Tengah. Padahal, hal ini sudah terbukti merugikan kepentingan rakyat AS sendiri. Dana negara yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat AS, kini malah lebih banyak disedot untuk membiayai perang. Dengan demikian, bisa dikatakan, sesungguhnya AS adalah negara yang secara politis sedang dijajah oleh gerakan Zionisme Internasional.

Namun demikian, Chomsky memberikan analisis sbb, “Dalam sebagian besar kejadian di dunia, gerakan bangsa-bangsa dunia membuktikan bahwa media AS mengalami kegagalan dalam perang yang tidak seimbang untuk menciptakan mitos bagi dirinya sendiri dalam opini umum, dan pelanggengan hegemoni mereka di dunia.” Dari analisis ini, agaknya bisa diambil kesimpulan bahwa media massa muslim tidak perlu berkecil hati dan patah semangat dalam melawan hegemoni jaringan media massa dunia. Media massa muslim harus terus maju dan teguh menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat. Pada akhirnya, masyarakat akan menyadari hakikat jaringan media kapitalis yang mengabdi pada ambisi imperialisme Barat, dan mereka akan berpaling kepada jaringan media yang jujur.

Selain hal di atas, media massa juga bisa di jadikan alat kepentingan dan propaganda dalam pemilihan umum untuk mendapatkan kekuasaan. Dalam teori analisis media, Louis Althusser mengemukakan tentang struktural Marxism yaitu media massa bagian dari aparatus idioligis negara. Media dan kekuasaan negara saling terkait.

Misalnya saja dalam pelaksanaan pemilu beberapa media massa akan memberikan berita yang mungkin tidak netral karena beberapa alasan:

  1. Konflik kepentingan dalam media massa karena pertimbangan pemasukan iklan. Partai-partai politik bermodal besar menjanjikan akan memasang iklan, yang berarti pemasukan uang besar untuk media, sehingga mereka cenderung untuk tidak terlalu kritis terhadap potensi pelanggaran yang dilakukan partai bersangkutan.
  2. Konflik kepentingan dalam media massa karena pimpinan media massa menjadi pengurus/simpatisan/atau pendukung parpol tertentu. Dalam Pemilu semasa Orde Baru, misalnya, mayoritas pimpinan media massa adalah anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan pendukung Golkar. Oleh karena itu, pemberitaan mereka cenderung membesarkan Golkar dan mengecilkan partai lain. Kecenderungan semacam ini masih besar kemungkinannya terjadi pada Pemilu selanjutnya. Apalagi wartawan “bermental Orde Baru” ini sampai sekarang masih kuat bercokol di organisasi jurnalis dan di medianya.
  3. Konflik kepentingan dalam media massa karena sebagian wartawan menjadi anggota, pengurus atau pendukung partai politik tertentu (posisi ini bisa dengan restu atau tanpa restu dari pemimpin media bersangkutan). Hal ini juga akan mempengaruhi pemberitaan mereka.
  4. Konflik kepentingan dalam media massa karena pimpinan media bersangkutan ikut aktif sebagai kandidat dalam Pemilu, baik untuk posisi anggota DPR, DPD ataupun Presiden. Contoh yang paling menonjol adalah majunya Surya Paloh, pemimpin grup penerbitan Media Indonesia dan Metro TV, sebagai calon Presiden RI melalui Konvensi Partai Golkar. Sulit diharapkan, Media Indonesia dan Metro TV dapat bersikap fair terhadap kandidat lain, tapi akhirnya Surya Paloh tidak terpilih juga menjadi presiden.

Selain itu, dengan menggunakan teori Agenda Setting media berusaha membuat penting sebuah sajian informasi. Sehingga, menghasilkan masyarakat yang terpengaruh karena dengan begitu pula masyarakat dapat dengan mudah saja mengikuti dan menyetujui apa yang disampaikan dalam media massa.

Media massa membuat penting isu-isu yang diangkat walaupun tak sepenuhnya dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan demikian masyarakat seolah membutuhkan pesan dan informasi yang pada akhirnya mengubah pemikiran dan bahkan kebudayaan dalam masyarakat tersebut.

Dalam kaitan cara media menghubungkan masyarakat dan fakta sebenarnya (realitas), McQuail menjelaskan media massa berperan sebagai:

Jendela pengalaman yang meluaskan pandangan dan memungkinkan kita untuk mampu memahami apa yang terjadi di sekitar kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap memihak. Juru bahasa yang menjelaskan dan memberi makna terhadap peristiwa atau hal yang terpisah dan kurang jelas. Pembawa atau pengantar informasi atau pendapat. Jaringan interaktif yang menghubungkan pengirim dengan penerima melalui pelbagai macam umpan balik.

Papan penunjuk jalan yang secara aktif menunjukkan arah, memberikan bimbingan atau instruksi. Penyaring yang memilih bagian pengalaman yang perlu diberi perhatian khusus dan menyisakan aspek pengalaman lainnya, baik secara sadar dan sistematis maupun tidak.

Cermin yang memantulkan citra masyarakat terhadap masyarakat itu sendiri; biasanya pantulan citra itu mengalami perubahan atau distorsi karena adanaya penonjolan terhadap segi yang ingin dilihat oleh para anggota masyarakat atau seringkali pula segi yang ingin mereka hakimi atau cela. Tirai atau penutup yang menutupi kebenaran demi pencapaian tujuan propaganda atau pelarian dari suatu kenyataan (escapism). Yang terakhir ini seharusnya dihindari.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Media massa dan Propaganda memang terkait satu sama lainnya. Media massa menjadi unsur terpenting dalam kegiatan komunikasi propaganda untuk menjalankan berbagai kepentingan tertentu. Kepentingan-kepentingan inilah yang kemudian menjadi maslaah karena kerap kali disebarkan dengan tak berimbang.

Kegiatan Propaganda yang dipakai pada media massa dipakai dengan menggunakan cara agenda setting dan berbagai tekniknya, biasanya dipakai dengan cara-cara yang kotor seperti Black Propaganda pada pemilu misalnya. Pada perhelatan tersebut Propaganda dipakai untuk meruntuhkan dan menjerumuskan lawan politiknya.

Hampir sama dengan Propaganda di kancah politik, dalam melancarkan peperangan pun kemudian Propaganda dipakai sebagai jalan untuk menciptakan kerusuhan, dan rasa tidak percaya seorang pemimpin atau lembaga tertentu. Sebagai contohnya yang lain, yakni ketika Amerika sedang mengadakan penyerangan terhadap Irak sebagai usahanya untuk menciptakan kedamaian. Amerika menyuarakan Propagandanya terhadap publik internasional dengan menuduh Saddam Husein (Presiden Irak) sebagai seorang yang jahat, yang berusaha membuat bom pemusnah masal berupa nuklir. Maka, Propaganda yang diusung Amerika ini ternyata berhasil walaupun pada kenyataanny tuduhan bom tersebut tidak terbukti adanya.

Sehingga dengan demikian penulis pun menyimpulkan bahwa media massa baik itu audio, visual, ataupun audia visual merupakan jantung dari propaganda, yang dengannya dapat merubah cara berpikir bahkan idieologi seseorang dan bahkan masyrakat secara luas.

  1. Saran

Demikian sentralnya media massa dalam mempengaruhi masyarakat hendaknya dibarengi dengan informasi yang berimbang dengan tidak menjadikan Propaganda sebagai agenda setting dalam sebuah media. Karena dengan Propaganda anggapan yang ada yang sebenarnya fiktif bisa dipercaya begitu saja tanpa adanya verifikasi terlebih dahulu.

Propaganda di lain hal juga berisi hanya sebagai penyampai kepentingan-kepentingan tertentu. Sehingga dengan demikian propaganda yang ada harus di waspadai dan tidak begitu saja merangsek masuk pada media massa, yang pada akhirnya hanya menjadikan media sebagai alat untuk mempengaruhi belaka.

“ Tidak ada yang netral dalam media, yang ada hanyalah kepentingan”. Akankah ada media yang dengan jujur memgungkapkan fakta apa adanya??

About indark007

Indark007 adalah seorang mahasiswa di salah satu Universitas Islam Negeri di Bandung yang mengambil jurusan Jurnalistik sebagai konsentrasinya.... Blog ini hanyalah sebagai media sharing tentang pengetahuan dan kehidupan dari Indark007.. ^^

One response to “PROPAGANDA DAN MEDIA MASSA

  1. Ping-balik: OPINI PUBLIK, PROPAGANDA, DAN MEDIA MASSA « Bengkel Kata Sekaring

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s